Bunga Rampai Aceh

Selamat Datang Di "Bunga Rampai Aceh" Http://ChaerolRiezal.Blogspot.Com

1 Agustus 2012

"Anak Manusia" Itu Adalah Muhammad Saw

Dalam artikel sebelumnya, saya telah menunjukkan bahwa “Anak Manusia” yang diramalkan oleh Apocalypse kaum Yahudi itu bukanlah Yesus, dan Yesus tidak pernah mengakui sebutan itu untuk dirinya, karena kalau benar itu diakui maka ia telah membuat dirinya sendiri menggelikan dimata para pendengarnya.

Hanya ada dua jalan untuk dia: Mencela nubuat-nubuat mesianik dan pandangan-pandangan Apocalypse tentang Barnasha sebagai pemalsuan dan dongeng belaka, atau kalau tidak, memperkuatnya dan pada saat yang sama mengisi, jika ia sosok yang agung itu. Mengatakan, “Anak Manusia datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani” [1] atau “Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat” [2], atau “Anak Manusia datang, ia makan dan minum [anggur]” bersama orang-orang berdosa dan pemungut cukai” [3], dan pada saat yang sama mengaku bahwa ia adalah seorang pengemis yang hidup dari kedermawanan dan kebaikan orang lain, bahwa ia akan mencemooh bangsanya dan perasaan-perasaan keagamaannya yang paling suci! Membanggakan bahwa ia adalah Anak Manusia dan telah datang untuk menyelamatkan dan menemukan Domba Israel yang hilang [4], tetapi harus menunda penyelamatan ini hingga Hari Kiamat, dan bahkan kemudian dilemparkan kedalam api abadi, adalah mengecewakan semua harapan orang-orang yang disiksa itu, dan bahwa ia sendirian yang mendapat kehormatan sebagai satu-satunya bangsa yang mengakui keimanan dan agama Tuhan yang sejati, dan hal itu menghinakan nabi-nabi dan Apocalypse mereka.

Mungkinkah Yesus menerima gelar itu? Apakah pengarang dari empat kitab Injil itu adalah orang Yahudi? Mungkinkah Yesus dengan sungguh-sungguh mempercayai dirinya sebagaimana yang dinyatakan Injil-Injil yang jelas tidak asli ini? Mungkinkah seorang Yahudi secara sungguh-sungguh menulis kisah-kisah seperti itu yang sengaja ditulis untuk membingungkan dan mengandaskan harapan orang-orang itu? Tentu saja, bahwa tidak ada jawaban lain yang dapat diharapkan dari saya kecuali jawaban negatif atas semua pertanyaan-pertanyaan ini.

Baik Yesus maupun rasul-rasulnya tidak akan pernah menggunakan gelar yang luar biasa ditengah-tengah suatu kaum yang sudah mengetahui pemilik sah dari nama panggilan itu. Hal itu dapat disamakan dengan meletakkan mahkota raja diatas kepala duta besarnya, si duta besar tidak memiliki tentara yang dapat memproklamirkannya sebagai raja. Hal itu hanyalah suatu perampasan yang gila atas hak-hak dan kehormatan dari Anak Manusia yang sah.

Konsekuensinya, perampasan yang tidak bisa diberikan semacam itu dipihak Yesus adalah sama dengan penerimaan julukan “Anak Manusia Palsu”.

Imajinasi tentang suatu tindakan serupa yang berani dipihak Yesus membuat tabiat saya memberontak. Semakin sering saya membaca kitab-kitab Injil ini, semakin saya yakin bahwa kitab-kitab tersebut adalah bikinan – paling tidak dalam bentuk dan isinya sekarang – orang nonYahudi.

Kitab-kitab Injil ini merupakan imbangan dari wahyu (Apocalypse) Yahudi – khusunya sebagai proyek tandingan terhadap kitab-kitab kaum Sabyllian. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh kaum Kristen Yunani yang tidak tertarik dengan klaim “anak-anak Ibrahim”.

Pengarang kitab-kitab Sabyllian duduk berdampingan dengan nabi-nabi Israel seperti Enoch, Sulaiman, Daniel, dan Ezra, nama-nama guru Yunani Hermes, Homer, Orpheus, Pyhagoras, dan lain-lain, yang jelas-jelas mengadakan propaganda dengan sasarannya adalah agama Yahudi. Kitab-kitab ini ditulis ketika Yerusalem dan bait dalam keadaan hancur, suatu waktu sebelum atau diterbitkannya Apocalypse Yohanes. Maksud dari Apocalypse Sabyllian adalah bahwa Anak Manusia Ibrani (Hebrew)
[5] atau sang mesias akan datang untuk menghancurkan kekuasaan Romawi dan menegakkan agama Tuhan sejati untuk semua manusia.

Kita dapat membuat banyak argumen yang logis untuk membuktikan identitas “Anak Manusia” dengan Muhammad saja, dan saya akan membagi argumen-argumen ini sebagai berikut:

Argumen dari Kitab-kitab Injil dan dari Apocalypse

Dalam pasal-pasal yang penting dan bertalian secara logis dari khotbah-khotbah Yesus dimana julukan “Barnasha” (Anak Manusia) muncul, hanya pada diri nabi Muhammad saja lah ramalan yang terkandung didalamnya terpenuhi.

Dalam beberapa pasal, dimana Yesus dianggap telah menerima gelar itu untuk dirinya, pasal itu menjadi tidak logis, bodoh, dan sama sekali kabur. Ambil contoh pasal berikut. “Anak Manusia datang, ia makan dan minum, dan mereka berkata,”Lihatlah….”
[6]

Yohanes Pembaptis adalah seorang peminum minuman keras, ia hanya minum air, makan belalang, dan madu liar, mereka berkata ia adalah seorang yang kejam. Tetapi Anak Manusia, id est Yesus (?), yang makan dan minum anggur, dicap sebagai “teman para pemungut cukai dan orang-orang berdosa”.

Menyalahkan seorang nabi karena ia berpuasa dan menahan nafsu merupakan dosa ketidaksetiaan dan kebodohan yang besar. Tetapi mencela seseorang yang mengaku sebagai seorang Pesuruh Tuhan karena sering- mengunjungi perjamuan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, dan karena suka minum anggur, adalah sangat wajar dan suatu tuduhan serius terhadap ketulusan hati orang itu yang menganggap diri sebagai pembimbing spiritual manusia.

Dapatkah kita kaum Muslim mempercayai ketulusan hati seorang Mullah ketika kita melihat dia bergaul dengan pemabuk dan pelacur? Dapatkah umat Kristen betah dengan seorang Pastur dan Pendeta yang berkelakuan sama? Pasti tidak. Seorang pembimbing spiritual bisa saja bergaul dengan semua orang termasuk pendosa, tetapi hanya dalam rangka memperbaiki perilaku mereka.

Menurut kutipan yang baru saja disebutkan, Yesus mengakui bahwa perilakunya telah mempermalukan para pemimpin keagamaan dan bangsanya. Benar, bahwa para petugas pabean, yang disebut publican (Pemungut cukai), dibenci oleh kaum Yahudi hanya karena jabatan mereka. Kita hanya diberitahu dua publican
[7] dan satu Harlot[8] dan satu perempuan “kesurupan” yang diubah oleh Yesus [menjadi pengikutnya], tetapi semua pendeta dan ahli hukum dicap dengan kutuk dan laknat [9].

Ide atau pemikiran bahwa seorang nabi yang begitu suci dan tanpa dosa seperti Yesus, gemar anggur, bahwa ia mengubah enam galon air menjadi anggur yang paling memabukkan untuk membuat gila serombongan besar tamu yang sudah agak mabuk dalam gedung perkawinan di Kana
[10], benar-benar menggambarkan dia sebagai seorang tukang tipu dan tukang sihir!

Pikirkanlah tentang keajaiban yang dilakukan oleh seorang thaumaturge
[11] didepan reruntuhan para pemabuk! Menggambarkan Yesus sebagai seorang pemabuk dan rakus, dan teman orang yang tidak karuan, dan kemudian memberinya gelar “Anak Manusia” berarti menyangkal semua Apocalypse Yahudi.

Lagi-lagi Yesus dilaporkan telah berkata bahwa, “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang”
[12]. Para juru tafsir tentu saja menafsirkan pasal ini hanya dalam makna spiritual. Benar, adalah misi dan tugas dari setiap nabi dan pengkhotbah agama mengajak para pendosa untuk menyesali dosa dan kejahatannya.

Kita benar-benar mengakui bahwa Yesus diutus hanya untuk “domba Israel yang hilang”, untuk memperbaiki dan mengubah mereka dari dosa, dan khususnya untuk mengajarkan kepada mereka secara jelas mengenai “Anak Manusia” yang akan datang dengan membawa kekuatan dan keselamatan.

Yesus tidak tidak dapat menerima penganugerahan terhadap dirinya untuk gelar “Barnasha” itu, dan kemudian tidak dapat menyelamatkan kaumnya, kecuali Zakheus, seorang perempuan Samaria, dan segelintir orang Yahudi lainnya, termasuk beberapa rasul, yang kebanyakan dibunuh sesudah itu karena dia. Paling mungkin yang Yesus katakan adalah, “Anak Manusia akan datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” . Karena hanya Muhammad saja lah maka kaum Yahudi yang beriman dan juga bangsa Arab dan orang-orang beriman lainnya menemukan semua yang tidak dapat diperbaiki, hilang, dan hancur –Yerusalem dan Mekkah, semua wilayah yang dijanjikan; banyak kebenaran tentang agama sejati, kekuasaan dan kerajaan Tuhan, kedamaian dan berkat yang dianugerahkan Islam didunia ini dan dunia yang akan datang.

Kita tidak dapat memberikan ruang untuk kutipan-kutipan lebih jauh dari banyak pasal dimana “Anak Manusia” muncul sebagai subyek, atau obyek, atau predikat dari kalimat. Tetapi cukup dengan satu kutipan lagi, yaitu “Anak Manusia akan diserahkan ketangan-tangan manusia”
[13] dan seterusnya, dan semua pasal dimana ia dijadikan subyek nafsu dan kematian. Ucapan-ucapan seperti itu diletakkan pada mulut Yesus oleh penulis non-Yahudi yang curang dengan tujuan menyelewengkan kebenaran tentang “Anak Manusia” seperti yang dipahami dan diyakini oleh kaum Yahudi, dan membuat mereka percaya bahwa Yesus dari Nazaret adalah yang disebutkan dalam Wahyu, tetapi ia hanya akan muncul diHari Kiamat.

Itulah kebijakan dan propaganda licik tentang contoh suatu perbuatan, dan kemudian persuasi yang sengaja dilakukan untuk kaum Yahudi. Namun penipuan itu terbongkar, dan kaum Kristen Yahudi menjadi anggota gereja yang tetap menganggap kitab-kitab Injil ini sebagai wahyu Ilahi. Karena tidak ada yang lebih menjijikkan bagi cita-cita kebangsaan dan sentimen keagamaan Yahudi daripada menghadirkan kepada mereka sang Mesias (Barnasha)yang ditunggu-tunggu dalam wujud Yesus yang dihukum salib oleh para imam kepala dan para tetua sebagai seorang penggoda!

Oleh karena itu, sangatlah jelas bahwa Yesus tidak pernah menyandang gelar “Anak Manusia”, tetapi ia mencanangkannya hanya untuk Muhammad, dan inilah beberapa argumennya:
 
  1. Apocalypse Yahudi menisbahkan gelar “Mesias” dan “Anak Manusia” semata-mata untuk nabi terakhir yang akan berjuang melawan kuasa-kuasa gelap dan menaklukkan mereka, dan kemudian akan menegakkan Kerajaan Perdamaian dmuka bumi. Dengan demikian, kedua gelar itu sinonim, memungkiri salah satunya berarti sama sekali memungkiri klaim sebagai nabi terakhir.
Kini kita membaca dalam Synoptic bahwa Yesus mentah-mentah menolak dirinya sebagai kristus dan melarang murid-muridnya menyatakan dia sebagai sang “mesias”! dilaporkan bahwa Simon Petrus, ketika menjawab pertanyaannya Yesus, “Menurut kamu, siapakah aku ini?” Dijawab, “Engkau adalah kristus (mesias) dari Allah [14]. Kemudian Yesus memerintahkan muridnya untuk tidak mengatakan kepada siapapun bahwa ia adalah kristus[15].

Markus dan Lukas tidak tahu apa-apa tentang “kekuasaan kunci-kunci” yang diberikan kepada Petrus. Mereka tidak mendengarnya karena tidak berada disana. Yohanes tidak berkomentar apa-apa tentang percakapan mesianistik ini, barang kali ia telah melupakannya!

Matius melaporkan [16] bahwa ketika Yesus menyuruh mereka agar tidak memberitahukan bahwa ia adalah Kristus, ia menjelaskan kepada mereka bagaimana ia akan diserahkan dan dibunuh. Lalu Petrus mulai memarahi dan memperingatkannya agar tidak mengulangi kata-kata yang sama tentang keinginan besar dan kematiannya.

Menurut cerita dari Matius ini, Petrus seratus persen benar ketika mengatakan, “Guru, walaupun jauh darimu, jika benar bahwa pengakuannya, “Engkau adalah Mesias”, telah menyenangkan hati Yesus, yang telah memberikan gelar "Sapha" atau "Cepha" kepada Simon Peter, kemudian menyatakan bahwa “Anak Manusia” mengalami kematian yang tercela diatas salib adalah penolakan mentah-mentah akan sifat mesianiknya. Tetapi Yesus menjadi lebih positif dan dengan marah mencerca Petrus dengan mengatakan, “Berdirilah engkau dibelakangku, Setan! [17] Menyusul kemarahan yang pedas ini adalah kata-kata sang guru yang paling tegas dan menegaskan bahwa ia bukan “Mesias” atau “Anak Manusia”.

Bagaimana mendamaikan “keyakinan” Petrus, dibalas dengan gelar yang agung “Sapha” dan kekuasaan kunci-kunci Surga dan Neraka, dengan “ketidaksetiaan” Petrus yang dihukum dengan sebutan hina “Setan”, dalam waktu kira-kira setengah jam? Beberapa pemikiran muncul sendiri dalam benak saya, dan saya merasa itu tugas yang merupakan panggilan kata hati saya untuk menguraikannya secara tertulis.

Jika Yesus adalah “Anak Manusia” seperti yang dilihat dan diramalkan oleh Daniel, Ezra, Enoch, dan nabi-nabi bani Israel lainnya, maka ia sudah menyuruh murid-muridnya untuk memproklamirkan dan menyatakan dirinya demikian, dan ia sendiri akan mendukung mereka. Namun, faktanya adalah bahwa Yesus benar-benar berbuat hal yang sebaliknya.

Lagi-lagi jika Yesus adalah “Anak Manusia”, maka ia akan segera meneror musuh-musuhnya, dan dengan bantuan para malaikatnya yang gaib, menghancurkan Kerajaan Romawi dan Persia, kemudian menguasai dunia yang beradab. Namun justru Yesus tidak melakukan hal semacam itu, atau seperti Muhammad, ia akan merekrut pejuang-pejuang yang gagah berani seperti Ali bin Abu Thalib, Umar bin Khatab, Khalid bin Walid, dan lain-lain, dan bukan seperti Zebedee dan Jonas, yang menghilang, seperti hantu yang menakutkan ketika polisi Romawi datang untuk menangkap mereka.

Ada dua pernyataan yang tidak dapat didamaikan yang dikemukakan oleh (kitab) Matius atau (diselewengkan oleh penyisipnya), yang secara logis saling menghancurkan. Dalam satu jam Petrus adalah “Batu Keyakinan”, sebagaimana dibanggakan oleh agama Katholik, namun disisi lain dicap juga sebagai “Setan Ketidaksetiaan”, sebagaimana diejek oleh agama Protestan! Mengapa demikian? Karena ketika ia percaya Yesus sebagai Mesias, maka ia diberi ganjaran, tetapi ketika ia ia menolak untuk mengakui bahwa gurunya bukan mesias, maka ia dihukum!

Tidak ada dua “Anak Manusia”, yang satu sebagai pemimpin orang beriman, dengan pedang ditangan berperang demi Tuhan, dan melenyapkan kemusyrikan, kerajaan musuh hingga keakar-akarnya, sedangkan satunya lagi sebagai Kepala Biara Kaum Anchorite yang malang melintang di puncak Calvary, berjuang dalam perang demi Tuhan dengan salib ditangan dan mati secara memalukan oleh orang-orang Romawi musyrik dan para imam Yahudi yang tidak beriman!

“Anak Manusia” yang tangan-tangannya terlihat oleh nabi Yehezkiel dibawah sayap Cherub (2) dan didepan singgasana Tuhan oleh nabi Daniel (pasal tujuh), dan digambarkan oleh Apocalypse Yahudi lainnya, tidak ditakdirkan untuk digantung diatas Golgota, tetapi untuk mengubah tahta para raja penyembah berhala menjadi salib bagi mereka sendiri, untuk mengubah istana-istana mereka menjadi calvary , dan membuat kuburan-kuburan kota-kota besar mereka.

Bukan Yesus, melainkan Muhammad, yang mendapat kehormatan untuk menyandang gelar “Anak Manusia”! Fakta-fakta yang ada lebih mengesankan ketimbang Apocalypse dan Penglihatan-penglihatan sekalipun. Kesuksesan dari penaklukan-penaklukan material dan moral yang dicapai oleh Muhammad atas musuh-musuhnya tidak ada yang mampu menandinginya.
 
  1. “Anak Manusia” disebut oleh Yesus sebagai “Tuhan atas hari Sabat” (matius 12:8). Hal ini memang sangat luar biasa, kesucian hari ketujuh merupakan tema Hukum Musa. Tuhan menyelesaikan pekerjaan penciptaan selama enam hari, dan pada hari ketujuh Tuhan beristirahat.
Firman keempat dari Decalogue memerintahkan Bani Israel, “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat” (Keluaran 20:8). Para pengkaji Bible tahu betapa Tuhan cemburu mengenai pelaksanaan yang ketat atas Hari Istirahat. Sebelum Musa, tidak ada ketentuan khusus mengenai ini, dan para Patriarch pengembara tidak menjalankannya. Besar kemungkinan bahwa kata Sabath kaum Yahudi asalnya dari Sabattu bangsa Babylonia.

Al-Qur'an tidak mengakui konsep kaum Yahudi mengenai anthropomorphus (keserupaan dengan manusia) Tuhan.

“Dan sesungguhnya telah kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam enam hari dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan” (QS Qaf 50:38)

Gagasan kaum Yahudi tentang Sabath telah menjadi sangat meteri dan membahayakan. Bukannya menjadikan hari itu sebagai hari istirahat yang menyenangkan dan liburan yang menggembirakan, malah telah diubah menjadi hari yang penuh pantangan dan pengurungan diri. Tidak boleh memasak, tidak boleh jalan-jalan, dan tidak boleh beramal atau berderma.

Para pendeta di bait membakar roti dan mengadakan korban di hari Sabath, tetapi mencemooh nabi dari Nazaret ketika ia menyembuhkan secara ajaib seorang yang tangannya mati sebelah (Matius 12:10-13). Terhadap hal ini, Yesus berkata bahwa hari Sabath itu diadakan untuk kebaikan manusia, dan bukannya manusia untuk kebaikan hari Sabath. Bukannya menjadikan hari itu sebagai hari Kebaktian dan kemudian hari rekreasi, hari kesenangan yang tidak merusak, dan hari istirahat yang sesungguhnya, mereka malahan menjadikan Hari Sabath sebagai hari pemenjaraan yang membosankan.

Pelanggaran terkecil atas aturan apapun berkenaan dengan hari ketujuh dihukum dengan beberapa jenis hukuman. Musa sendiri menghukum seorang lelaki miskin karena telah memungut beberapa tongkat dari tanah pada Hari Sabath, dan murid-murid Yesus dimarahi karena memetik beberapa bulir jagung pada Hari Sabath, meskipun mereka lapar. Jelas sekali, bahwa Yesus bukan seorang Sabatarian dan tidak mengikuti penafsiran harfiah dari peraturan-peraturan drakonik tentang Hari Sabath. Ia menginginkan kasih sayang atau perbuatan baik dan bukan pemberian korban.

Meskipun demikian Yesus tidak pernah berpikir untuk menghapus Hari Sabath, tidak juga untuk mencoba melakukannya. Seandainya ia mencoba mengganti hari tersebut dengan hari minggu, sudah pasti ia akan ditinggalkan para pengikutnya. Tetapi, pendek kata, Yesus menjalankan hukum Musa. Sebagaimana kita ketahui dari sejarawan Yahudi, Joseph Flavius, dari Eusebius, dan lain-lain, Yakobus “saudara” Yesus adalah seorang Ibionite yang keras yang kepala kaum Kristen Yudaistik yang menjalankan Hukum Musa dan Sabath dengan segala kekakuannya.

Kaum Kristen Helenistik secara berangsur-angsur menggantikan lebih dahulu “hari Tuhan” yaitu hari Minggu, tetapi gereja-gereja timur sampai abad keempat menghormati kedua hari itu.

Nah, jika Yesus adalah “Tuhan atas Hari Sabath”, maka pasti ia sudah mengubah hukum-hukumnya yang keras atau sama sekali menghapusnya. Namun, ia tidak melakukannya. Kaum Yahudi yang mendengarkannya dan memahami dengan baik bahwa ia menunjuk kepdaa Mesias yang diharapkan sebagai “Tuhan atas Hari Sabath”, dan itulah sebabnya mereka bungkam.

Redaktur dari Synoptics, telah menyembunyikan sebagian ucapan Yesus apabila “Anak Manusia” menjadi subyek ceramahnya, dan penyembunyian ini adalah penyebab dari semua ambiguitas, kontradiksi, dan kesalahpahaman (dalam kitab-kitab Injil).

Kalau kita tidak mengambil al-Qur'an sebagai pedoman, dan Rasul Allah sebagai obyek alkitab, maka semua upaya untuk menemukan kebenaran dan untuk sampai pada kesimpulan yang memuaskan akan berakhir dalam kegagalan.

“Higher Biblical Criticism” akan membimbing Anda sampai ke pintu gerbang tempat kebenaran yang keramat dan disana ia berhenti dan diliputi perasaan khidmat dan rasa tidak percaya. Ia tidak membuka pintu untuk masuk kedalam dan mencari dokumen-dokumen abadi yang tersimpan didalamnya. Semua penelitian dan pengetahuan yang ditunjukkan oleh kritikus-kritikus yang “obyektif” ini, apakah para pemikir liberal, rasionalis, atau penulis biasa, betapapun secara menyedihkan tidak tertarik, skeptis, dan menyedihkan.

Belakangan ini saya membaca larya-karya sarjana Perancis Ernest Renan, La vie de Jesus, Saint Paul , dan L'Antichrist . Saya heran dengan banyaknya karya, kuno, dan modern yang telah ia teliti. Ia mengingatkan saya pada Gibbon dan lainnya. Tetapi, aduh, apa kesimpulan dari riset dan kajian mereka yang tak kenal lelah itu? NOL BESAR! Dalam bidang sains, keajaiban-keajaiban alam ditemukan oleh kaum Positivis, tetapi dalam bidang keagamaan, kaum Positivis ini menarik keuntungan darinya dan meracuni sentimen keagamaan kepada para pembacanya. Seandainya saja para kritikus terpelajar ini mengambil spirit Al-Qur'an sebagai pembimbing mereka dan Muhammad sebagai penggenapan teks suci, maka riset mereka tidak akan begitu tidak karuanh dan destruktif.

Orang-orang beriman menginginkan sebuah agama yang riil dan bukan yang ideal. Mereka menginginkan seorang “Anak Manusia” yang akan menarik pedangnya dan berbaris didepan pasukannya yang gagah berani untuk menghancurleburkan musuh-musuh Tuhan dan membuktikan dengan ucapan dan perbuatan bahwa ia adalah “Tuhan atas Hari Sabath”, dan mencabut sebutan itu sama sekali, karena telah dikacaukan oleh kaum Yahudi, sebagaimana “Kebapakan” Tuhan telah dikacaukan artinya oleh Kristen. Dan Muhammad benar-benar melakukan semua ini.

Sebagaimana sudah sering saya ulangi dalam halaman-halaman ini, kita hanya dapat memahami kitab-kitab suci yang diselewengkan, ketika kita menembus dengan bantuan cahaya Al-Qur'an kedalam pernyataan yang membingungkan dan kontradiksi, dan hanya setelah itulah baru kita dapat menyaring mereka dengan saringan kebenaran dan memisahkan yang asli dari yang palsu.

Ketika, misalnya, berbicara tentang para imam yang secara terus-menerus melarutkan Sabath dalam Bait, Yesus dilaporkan telah berkata, “ Behold, here is one that is greater than the Temple (Lihat, inilah yang lebih hebat dari Bait Allah) [18]. Saya tidak dapat menerka arti keberadaan kata keterangan “here” dalam anak kalimat ini, kalau kita tidak membubuhkan tambahan huruf “t” sehingga menjad “there”. Karena, jika Yesus ataupun nabi sebelumnya harus punya keberanian untuk menyatakan diri “lebih hebat dari Bait Allah”, mungkin ia sudah langsung dihukum mati oleh kaum Yahudi sebagai seorang “penghina”, kecuali kalau ia dapat membuktikan dirinya sebagai “Anak Manusia”.

Penghapusan Sabath oleh pangeran para nabi (Muhammad) diisyaratkan dalam Al-Qur'an (QS al-Jumu'ah). Sebelum Muhammad, bangsa Arab menyebut hari Jum'at “al-A'ruba” yang sama dengan Pshittha Syriac “A'rubta” dari bahasa Arami “Arabh” (membenamkan matahari). Disebut begitu karena setelah terbenamnya matahari pada hari jum'at maka hari Sabath dimulai.

Alasan yang diberikan mengenai kesakralan Hari Sabath adalah bahwa pada hari itu Tuhan “beristirahat” dari pekerjaan penciptaan-Nya. Tetapi alasan untuk pilihan hari Jum'at, seperti dapat dipahami dengan mudah ada dua:

Pertama , karena pada hari ini kerja besar penciptaan alam semesta yang terdiri dari banyak sekali dunia, makhluk-makhluk nyata dan gaib, planet-planet dan mikroba-mikroba disempurnakan. Ini adalah kejadian pertama yang menyela keabadian, ketika waktu, ruang, dan materi mewujud. Perayaan, peringatan, dan kesucian dari kejadian yang luar biasa seperti itu pada hari dimana ia dicapai adalah sangat masuk akal, dan bahkan perlu.

Kedua , bahwa pada hari ini do'a dan sembahyang diadakan oleh orang-orang beriman secara bersama-sama, dan karena alasan inilah maka hari ini disebut “jumu'ah”, yang artinya, kumpulan manusia atau majelis. Ayat mengenai pokok bahasan ini menunjukkan kewajiban kita pada hari Jum'at:

“Hai orang-orang yang beriman! Apabila engkau diseru untuk menunaikan sembahang pada hari Jum'at, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS Al-Jumu'ah 62:9)

Orang-orang beriman diseru untuk bergabung dalam sembahyang bersama dalam Bait Allah yang dipersembahkan untuk penyembahan Tuhan, dan untuk sementara meninggalkan dahulu perniagaan apa pun, tetapi seusai sembahyang jum'at, mereka dianjurkan untuk kembali bekerja seperti biasa.

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS Al Jumu'ah 62:10)

Seorang muslim sejati dalam dua puluh empat jam (sehari) wajib menyembah Penciptanya minimal lima kali dalam shalat.
 
  1. Penyatuan bangsa-bangsa keturunan Ibrahim dan tanah-tanah tempat mereka berdiam harus dikembalikan dan dikerjakan.
Diantara banyak gagasan yang dubah, yang bersifat mementingkan diri sendiri, bodoh, dan tidak dapat dibenarkan yang terkandung dalam kitab-kitab suci Yahudi adalah prasangka bias yang mereka lontarkan terhadap bangsa-bangsa non-Israel. Mereka tidak pernah menghormati keturunan lainnya dari leluhur mereka yang agung (Ibrahim) dan antipati ini ditunjukkan kepada bani Ismail, bani Edom, dan suku-suku keturunan Ibrahim lainnya. Fakta bahwa disamping Ibrahim dan Ismail sekitar tiga ratus sebelas budak dan pejuang laki-laki disunat adalah argumen yang dipaksakan untuk sikap kaum Yahudi terhadap bangsa-bangsa sepupu mereka.

Kerajaan Daud hampir tidak memperluas perbatasan keluar wilayah yang dalam Kekaisaran Ottoman hanya membentuk dua “Vilyet” atau Provinsi, yang berbatasan. Dan “Anak Daud” yang diharapkan kaum Yahudi akan datang dengan membawa atribut “Mesias terakhir”, mungkin mampu atau mungkin tidak mampu menguasai juga dua provinsi itu, dan disamping itu, kapan ia akan datang? Karena mestinya Ia sudah datang untuk menghancurkan “Binatang Buas” Romawi.

“Binatang Buas” itu hanya dipotong-potong oleh Muhammad! Apa lagi yang diharapkan? Ketika Muhammad berhasil mendirikan Kerajaan Perdamaian (Islam), mayoritas kaum Yahudi di Arabia, Syria, Mesopotamia, dan sebagainya, secara sukarela kepadanya ketika ia berhasil memerangi kaum pagan yang tidak berprikemanusiaan. Muhammad membangun sebuah persaudaraan yang universal, yang pangkalnya tentu saja adalah keluarga Ibrahim, termasuk diantara anggota-anggotanya adalah bangsa Persia, Turki, Cina, Negro, Jawa, Indian, Inggris, dan lain-lain yang kesemuanya membentuk satu “umat” atau “umtha da-Shlama” yakni “bangsa Islam” (umat Islam)!

Maka peolehan kembali tanah-tanah yang dijanjikan, termasuk tanah Kanaan dan semua wilayah yang terbentang dari Sungai Nil sampai dengan Sungai Eufrat, dan secara berangsur-angsur Kerajaan Allah meluas dari lautan Pasifik sampai pantai-pantai timur Atlantik, adalah suatu pemenuhan nubuat yang mengagungkan tentang “Anak Manusia” yang paling suci dan agung!

Sumber:
“Menguak Misteri Muhammad” edisi khusus diterbitkan di Indonesia oleh Sahara Publishers cetakan kesebelas Mei 2006.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar